Berikut ini saya akan sedikit menjelaskan tentang sejarah
atau asal-usul pulau kemaro yang ada di sumatera selatan, tepatnya berada di
tengah sungai musi Palembang Sumatra Selatan.........................
Asal Usul Pulau Kemaro
Konon, Pulau Kemaro merupakan pulau
yang sejarahnya terbentuk oleh kekuatan cinta antara putri Kerajaan
Sriwijaya yaitu Siti Fatimah dengan seorang pemuda perantauan dari
tiongkok. Setelah menikah pasangan suami istri ini berkunjung ke negeri asal
sang suami. Setelah itu mereka kembali lagi ke Palembang. Dengan dibekali tujuh
guci besar dari orang tua sang suami. Saat sampai di sungai Musi sang sumi
putri siti fatimah, membuka guci untuk melihat berisi apakah ketujuh guci ini.
Saat di buka teryata berisikan sayur bayam dan asin-asinan.
Pada suatu hari, datanglah seorang putra raja dari Negeri
Cina bernama Tan Bun Ann untuk berniaga di Negeri Palembang. Putra Raja Cina
itu berniat untuk tinggal beberapa lama di negeri itu, karena ia ingin
mengembangkan usahanya. Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap
kepada Raja Sriwijaya untuk memberitahukan maksud kedatangannya ke negeri itu.
“Ampun, Baginda! Nama hamba Tan Bun Ann, putra raja dari
Negeri Cina. Jika diperkenankan, hamba bermaksud tinggal di negeri ini dalam
waktu beberapa lama untuk berniaga,” kata Tan Bun Ann sambil memberi hormat.
“Baiklah, Anak Muda! Aku perkenankan kamu tinggal di negeri
ini, tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan sebagian untung yang kamu
peroleh kepada kerajaan,” pinta Raja Sriwijaya.
Tan Bun Ann pun menyanggupi permintaan Raja Sriwijaya. Sejak
itu, setiap minggu ia pergi ke istana untuk menyerahkan sebagian keuntungan
dagangannya. Suatu ketika, ia bertemu dengan Siti Fatimah di istana. Sejak
pertama kali melihat wajah Siti Fatimah, Tan Bun Ann langsung jatuh hati.
Demikian sebaliknya, Siti Fatimah pun menaruh hati kepadanya. Akhirnya, mereka
pun menjalin hubungan kasih. Karena merasa cocok dengan Siti Fatimah, Tan Bun
Ann pun berniat untuk menikahinya.
Pada suatu hari, Tan Bun Ann pergi menghadap Raja Sriwijaya
untuk melamar Siti Fatimah.
“Ampun, Baginda! Hamba datang menghadap kepada Baginda untuk
meminta restu. Jika diperkenankan, hamba ingin menikahi putri Baginda, Siti
Fatimah,” ungkap Tan Bun Ann.
Raja Sriwijaya terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa Tan Bun
Ann adalah seorang putra Raja Cina yang kaya raya.
“Baiklah, Tan Bun! Aku merestuimu menikah dengan putriku
dengan satu syarat,” kata Raja Sriwijaya.
“Apakah syarat itu, Baginda?” tanya Tan Bun Ann penasaran.
“Kamu harus menyediakan sembilan guci berisi emas,” jawab
Raja Sriwijaya.
Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Ann pun bersedia memenuhi
syarat itu.
“Baiklah, Baginda! Hamba akan memenuhi syarat itu,” kata Tan
Bun Ann.
Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk
menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu
kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari kedua
orang tuanya itu berisi restu atas pernikahan mereka dan sekaligus permintaan
maaf, karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun, sebagai
tanda kasih sayang kepadanya, kedua orang tuanya mengirim sembilan guci berisi
emas. Demi keamanan dan keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut dari
bajak laut, mereka melapisinya dengan sayur sawi tanpa sepengetahuan Tan Bun
Ann.
Saat mengetahui rombongan utusannya telah kembali, Tan Bun
Ann dan Siti Fatimah bersama keluarganya serta seorang dayang setianya segera
berangkat ke dermaga di Muara Sungai Musi untuk memeriksa isi kesembilan guci
tersebut. Setibanya di dermaga, Tan Bun Ann segera memerintahkan kepada
utusannya untuk menunjukkan guci-guci tersebut.
“Mana guci-guci yang berisi emas itu?” tanya Tan Bun Ann
kepada salah seorang utusannya.
“Kami menyimpannya di dalam kamar kapal, Tuan!” jawab utusan
itu seraya menuju ke kamar kapal tempat guci-guci tersebut disimpan.
Setelah utusan itu mengeluarkan kesembilan guci tersebut
dari kamar kapal, Tan Bun Ann segera memeriksa isinya satu persatu. Betapa
terkejutnya ia setelah melihat guci itu hanya berisi sayur sawi yang sudah
membusuk.
“Oh, betapa malunya aku pada calon mertuaku. Tentu mereka
akan merasa diremehkan dengan barang busuk dan berbau ini,” kata Tan Bun Ann
dalam hati dengan perasaan kecewa seraya membuang guci itu ke Sungai Musi.
Dengan penuh harapan, Tan Bun Ann segera membuka guci yang
lainnya. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Setelah membuka guci-guci
tersebut ternyata semuanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk. Bertambah
kecewalah hati putra Raja Cina itu. Dengan perasaan kesal, ia segera
melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi satu persatu tanpa memeriksanya
terlebih dahulu. Ketika ia hendak melemparkan guci yang terakhir ke sungai,
tiba-tiba kakinya tersandung sehingga guci itu jatuh ke lantai kapal dan pecah.
Betapa terkejutnya ia saat melihat emas-emas batangan terhambur keluar dari
guci itu. Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk tersebut tersimpan
emas batangan. Ia bersama seorang pengawal setianya segera mencebur ke Sungai
Musi hendak mengambil guci-guci yang berisi emas tersebut.
Melihat hal itu, Siti Fatimah segera berlari ke pinggir
kapal hendak melihat keadaan calon suaminya. Dengan perasaan cemas, ia menunggu
calon suaminya itu muncul di permukaan air sungai. Karena orang yang sangat
dicintainya itu tidak juga muncul, akhirnya Siti Fatimah bersama dayangnya yang
setia ikut mencebur ke sungai untuk mencari pangeran dari Negeri Cina itu.
Sebelum mencebur ke sungai, ia berpesan kepada orang yang ada di atas kapal
itu.
“Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu
kuburan saya,” demikian pesan Siti Fatimah.
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, muncullah tumpukan
tanah di tepi Sungai Musi. Lama kelamaan tumpukan itu menjadi sebuah pulau.
Masyarakat setempat menyebutnya Pulo Kemaro. Pulo Kemaro dalam bahasa Indonesia
berarti Pulau Kemarau. Dinamakan demikian, karena pulau tersebut tidak pernah
digenangi air walaupun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.
By : Alvian Frandika Rowi